Selasa, 18 November 2014

Short Story About Me



Dahulu sewaktu saya duduk di bangku TK saya pernah ditanya oleh papa mama saya, kalau sudah besar mau menjadi apa, tapi saya tidak menjawabnya karena saya tidak tau kalau sudah besar mau menjadi apa dan saya tidak tau cita-cita saya itu seperti apa nantinya. Tapi saya pernah sewaktu ditanya seperti itu saya menujuk orang yang ada di tv yaitu dokter, saya ingin sekali menjadi dokter yang bisa membantu banyak orang. Papa mama saya lalu bilang saya bisa menjadi apa yang saya cita-citakan. Lalu sewaktu saya SD saya ditanya apa cita-cita saya kelak oleh guru saya, lalu saya menjawab saya ingin menjadi dokter. Guru saya pun bilang kalau saya bisa menjadi apa yang saya inginkan. Lain halnya sewaktu saya SMP, sewatu saya duduk dibangku SMP saya disuruh menuliskan cita-cita saya disecarik kertas, lalu disaat itu saya menuliskan saya ingin menjadi seorang psikolog. Teman-teman saya pun mentertawakan cita-cita saya. Mereka bilang orang yang menjadi seorang psikolog adalah orang yang sok tau, dia bisa tau apa yang sedang dialami oleh orang lain, tapi dia tidak tau apa yang sedang dia sendiri rasakan. Saya sedih dan kecewa karena teman-teman saya tidak mendukung apa yang saya cita-citakan, mereka malah menolok-olok dan mentertawakannya. Di sisi lain orang tua saya pun tidak menyetujui saya untuk menjadi seorang psikolog, entah alasan apa yang menjadi bahan pertimbangan untuk orang tua saya tidak meyetujui cita-cita saya. 
Disaat itu saya bingung dengan semuanya, saya heran mengapa banyak yang tidak menyetujui saya untuk menjadi psikolog, banyak yang mecaci-maki dan mentertawakannya. Lalu saya pun berkonsultasi dengan guru di SMP saya, saya bertanya apa salah saya mempunyai cita-cita menjadi psikolog dan mengapa banyak yang tidak setuju dan malah mentertawakannya. Lalu guru saya bilang apapun cita-cita kamu asal itu baik tidak masalah, cara pandang orang tentang suatu profesi berbeda, mungkin cara pandang mereka salah, dan soal orang tua mungkin kamu harus membujuknya saja dan coba beri pengertian. Saya pun langsung sadar, dan saya bangga sama apa yang saya cita-citakan, cita-cita orang memang berbeda, maka dari itu saya semakin yakin dengan apa yang saya cita-citakan. Keesokan harinya saya mencoba bilang kepada kedua orang tua saya tentang apa yang saya cita-citakan, saya bilang bahwa life in choise hidup ini adalah pilihan, profesi adalah pilihan, apa salah saya tertarik dan ingin menjadi seorang psikolog. Lalu oarang tua saya pun terdiam dan beliau tetap tidak setuju saya menjadi psikolog. Tapi saya tidak peduli dengan semua itu, saya tetap yakin dengan cita-cita saya. Beranjak masuk ke SMA banyak berbagai pengalaman yang saya dapatkan, salah satunya informasi tentang berbagai profesi kesehatan. Tenyata banyak sekali profesi yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Banyak sekali teman-teman saya yang tertarik masuk ke dunia kesehatan. Entah itu menjadi dokter, perawat, bidan, ahli gizi, farmasi, kesehatan masyarakat, dan lain-lain.
Awal masuk SMA saya tetap pada pendirian saya, saya tetap yakin dengan cita-cita saya yaitu psikolog. Disaat itu saya mengira psikolog itu masuk kedalam dunia kesehatan, tapi ternyata perkiraan saya salah. Psikolog bukan termasuk kedalam dunia kesehatan. Di bangku SMA ini saya banyak sekali mendapat pencerahan dan berbagai informasi dari berbagai kalangan entah itu guru-guru atau teman-teman saya. Disaat kelas 3 SMA saya sangat bingung karena disanalah penentuan kita mau menjadi apa, penentuan masa depan kita. Di kelas 3 SMA setelah Ujian Nasional ada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Disitulah saya bingung saya harus memilih Universitas mana dan program studi apa yang saya suka dan sesuai dengan kemampuan saya. Saya banyak berkonsultasi oleh kedua orang tua saya, guru-guru saya dan teman-teman saya. Ujian pertama yang saya lewati adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Di ujian pertama ini saya memilih Universitas Padjadjaran dan Universitas Soedirman dengan program studi Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat. Entah mengapa saya mengambil program studi itu, saya merasa saya ingin sekali menjadi seorang perawat, saya tidak lagi mau menjadi seorang psikolog, karena tidak direstui oleh kedua orang tua saya dan juga saya lebih tertarik masuk ke dalam dunia kesehatan, yaitu Keperawatan. 
Motivasi saya menjadi perawat yaitu saya ingin sekali membantu banyak orang, saya ingin membantu dokter untuk menyembuhkan masyarakat Indonesia. Orang tua saya pun setuju dengan pilihan saya karena mereka menggangap ini adalah pekerjaan mulia. Banyak orang yang bilang mengapa saya tidak menjadi dokter saja. Saya sadar menjadi dokter biayanya sangat mahal dan sepertinya kemampuan saya pun tidak cukup untuk menjadi seorang dokter. Saya menggangap menjadi seorang perawat lebih dari cukup dan sama halnya menjadi dokter hanya saja kita asistennya dokter. Di ujian pertama ini seleksinya menggunakan nilai rapot. Hari pengumuman pun tiba, dan hasilnya saya gagal, saya tidak diterima. 
Saya sedih dan kecewa saya malu dengan kedua orang tua saya. Lalu saya mencoba ikut tes PMDK D-3 disini saya mencoba mengambil di Universitas Sebelas Maret dan di Poltekkes Jakarta III dan saya mengambil program studi keperawatan. Disini seleksinya juga menggunakan nilai rapot. Dan lagi-lagi hasilnya gagal. Saya tidak berhenti mencoba, orang tua saya pun menyemangati. Saya mencoba lagi ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya mengambil 3 Universitas yaitu Universitas Brawijaya dengan program studi Kebidanan, Universitas Islam Negeri Jakarta dengan program studi Keperawatan, dan Universitas Negeri Semarang dengan program studi Kesehatan Masyarakat. Disini seleksinya menggunakan tes. Hasilnya pun sama seperti ujian sebelumnya, saya tidak lolos. Disaat itu saya hampir putus asa karena saya tidak diterima kesekian kalinya oleh Perguruan Tinggi Negeri.
Banyak sekali kendala ditengah jalan, banyak sekali cobaan untuk menjadi sukses dan berhasil. Kedua orang tua saya pun sampai menyuruh saya untuk mendaftar juga di Universitas Swasta, tapi saya tidak mau karena saya sadar di Universitas Swasta biayanya lebih mahal daripada Universitas Negeri. Saya tetap akan mencoba untuk bisa masuk di Universitas Negeri melalui jalur apapun. Setelah semua jalur saya coba, kali ini saya mencoba masuk lewat jalur UM (Ujian Mandiri), dijalur ini memang biayanya lebih mahal tapi saya teringat kalau tahun ini sistem di Universitas Negeri memakai UKT (Uang Kuliah Tunggal) jadi semua sama saja. Saya mencoba 3 Universitas yaitu Poltekkes Jakarta III dengan program studi Keperawatan, Universitas Islam Negeri Jakarta dengan program studi Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat dan Universitas Diponegoro dengan program studi Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat. 
Saya berharap sekali di ujian kali ini saya lolos dan alhamdulillah doa saya didengar oleh Allah. Saya lolos di Poltekkes Jakaarta III dengan program studi Keperawatan D-3 dan di Universitas Diponegoro dengan program studi Keperawatan S-1. Disini saya bingung saya harus mengambil yang mana, kerena semua sama-sama cocok dengan pilihan saya, mau tidak mau saya harus memilih dan menentukan mana yang harus saya pilih. Lalu akhirnya dengan keputusan bersama antara sana dan orang tua saya, saya mengambil di Universitas Diponegoro dengan program studi Keperawatan S-1. Saya pikir lebih baik saya langsung menggambil S-1 dibanding D-3, karena sekarang banyak sekali S-1 yang pengganguran apalagi D-3. 
Orang tua saya bangga sekali karena saya bisa masuk di salah satu Universitas terbaik di Indonesia, Universitas yang sudah mempunyai nama besar di masyarakat luas. Saya pun senang karena saya bisa membuat orang tua saya bangga. Saya sama sekali tidak terpikir kalau saya akan menggambil dan dapat diterima di Universitas Diponegoro, karena banyak masalah yaitu jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan seleksinya yang sangat ketat. Tapi saya bisa membuktikan kepada semua kalau saya bisa, saya mampu berada di Universitas ini. Persoalan jauh dari rumah dan jauh dari orang tua insyaallah bisa diselesaikan, memang kalau kita ingin mrenjadi sukses dan berhasil banyak sekali perjungan dan pengobanan, banyak sekali jatuh bangun, kegagalan, kesedihan ditengah jalan, tapi insyaallah kalau ada niat bisa menjadi happy ending. Saya berpikir kalau saya mengambil di Universitas ini banyak sekali pengalaman yang akan saya dapatkan, yaitu suasana baru, teman baru, tempat tinggal baru dan semuanya baru. Dan saya ingat oleh perkataan guru saya, apapun bisa kita raih selagi ada niat, usaha dan berdoa. Saya akan membuktikan kalau saya bisa sukses dengan apa yang saya cita-citakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar