Selasa, 18 November 2014

Cara Pengobatan Luka yang Baik

Dalam sistem pengobatan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu pengobatan barat dan pengobatan timur. Seiring dengan berkembangnya teknologi, pengobatan modern pun semakin berkembang. Tujuannya agar bisa membantu masyarakat yang sedang dalam kesusahan meangani penyakitnya. Manfaatnya masyarakat bisa dapat terbantu karena ada berbagai pengobatan dari yang tradisional dan murah sampai yang modern dan mahal.

Silastic foam stent telah ditemukan secara khusus sangat sesuai untuk penatalaksanaan luka yang dalam dan bersih. (Wood dan Hughes 1975;Morgan et al, 1980;Cook dan Devlin, 1985) serta untuk penatalaksanaan fistula ani yang dibiarkan terbuka. Balutan tersebut mengandung dua jenis cairan, yakni busa basa dan katalis, yang dicampur dengan perbandingan 100:6 selama 15 detik sebelum dituangkan kedalam luka. Campuran tersebut mengembang sehinga menghasilkan busa stent sekitar empat kali volume awal campuran itu. Stent tersebut dapat mengikuti garis bentuk luka dengan rapat. Stent memerlukan desinfeksi dua kali sehari dengan larutan hibitane 0,5% dan seringkali hal tersebut dapat dikelola dirumah oleh pasien sendiri atau oleh oarng yang merawat mereka. Stent tersebut dapat digunakan kembali selama sekitar 1 minggu, pada saat mana lukanya dapat dinilai kembali dan kemudian stent baru dapat dibuat. Busa dapat mempertahankan suatu lingkungan yang lembab pada daerah luka, menyerap panas dan mencegah terlalu cepatnya pembentukan jembatan diatas luka yang lebih dalam oleh epitel yang dapat mengganggu drainase luka. Lebih lanjut lagi, kebanyakan pasien yang lebih muda, yang sebaliknya tampak sangat sehat, memdapati balutan tersebut memungkinkan mereka dapat segera kembali bekerja serta melanjutkan kembali aktivitas normalnya, tanpa perlu mengunjungi pusat pelayanan kesehatan untuk mengganti balutannya setiap hari.
Secara tradisional abses yang telah didrainase dibalut dengan kasa berbentuk pipa yang seringkali dicelupkan kedalam larutan antiseptik yang telah banyak digunakan secara umum, termasuk larutan hipoklorit. Ada sejumlah pilihan yang tersedia. Apabila terdapat resiko tinggi terhadap infeksi berulang, maka suatu bead dressing seperti mislanya iodosorb yang mengandung povidon-iodin, dapat dipertimbangkan untuk penatalaksanaan luka jangka pendek. Formulasi salep secara khusus sangat mudah untuk digunakan. Setelah 2-3 hari, saat luka sudah sembuh dan mulai bergranulasi, maka antiseptik tidak diperlukan lagi. Diatas adalah contoh pengobatan secara modern dan tradisional, dan bisa diihat pengobatan secara tradisional lebih rumit dibandingkan pengobatan modern.

Berdasarkan tingkatan uji klinisnya, obat tradisional dapat digolongkan menjadi 3 yang pertama yaitu jamu (empirical based herbal medicine) adalah jenis herbal yang belum melalui proses uji kelayakan, hanya berdasarkan pengalaman masyarakat, yang kedua obat ekstrak alam (obat herbal terstandar/scientific based herbal medicine) yang telah diuji khasiat dan toksisitasnya (kandungan racun), namun belum di uji cobakan penggunaannya pada pasien, yang ketiga fitofarmaka (clinical based herbal medicine) yang melalui tiga uji penting yaitu uji praklinik (uji khasiat dan toksisitas), uji teknologi farmasi (untuk menentukan identitas atau bahan berkhasiat secara seksama hingga dapat dibuat produk yang terstandarisasi), uji klinis kepada pasien

Dalam  ensiklopedia pengobatan alternatif dibagi dalam 3 kelompok besar yaitu, Terapi Energi yang meliputi (Akupuntur , Akupresur, Shiatsu, Do-in, Shaolin, Qigong, T’ai chi ch’uan, Yoga, Meditasi, Terapi polaritas, Refleksiologi, Metamorphic technique, Reiki, Metode Bowen, Ayurveda, Terapi tumpangan tangan), Terapi fisik yang meliputi (Masase, Aromaterapi, Osteopati, Chiropractic, Kinesiology, Rolfing, Hellework,  Feldenkrais method,  Teknik Alexander, Trager work, Zero balancing, Teknik relaksasi, Hidroterapi, Flotation therapy, Metode Bates), Terapi pikiran dan spiritual yang meliputi (Psikoterapi, Psikoanalitik, Terapi kognitif, Terapi humanistik, Terapi keluarga, Terapi kelompok, Terapi autogenik, Biofeedback, Visualisasi, Hipnoterapi, Dreamwork, Terapi Dance movement, Terapi musik, Terapi suara, Terapi seni, Terapi cahaya, Biorhythms, Terapi warna). Dari hasil penelitian diatas jelas masyarakat dari dahulu sampai sekarang, diluar negeri walaupun dalam negeri tetap banyak yang memilih pengobatan secara tradisional, karena biaya murah dan juga waktu penyembuhan tidak terlalu lama.

Rumah Sakit di Indonesia masih menggunakan balutan konvensional, yaitu menggunakan kasa steril sebagai bahan utama balutan. Hasil riset mengatakan tingkat kejadian infeksi pada perawatan luka dengan cara konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan balutan modern. Perawatan luka yang diberikan pada pasien harus dapat meningkatkan proses penyembuhan luka. Perawatan yang diberikan bersifat memberikan kehangatan dan lingkungan yang lembab pada luka penyembuhan luka dan mencegah kerusakan atau trauma lebih lanjut. Balutan modern lebih dapat memberikan lingkungan lembab dibanding balutan kasa yang cenderung cepat kering. Biaya yang dikeluarkan pada kelompok balutan modern lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok konvensional, tetapi mempunyai tingkat perbaikan luka yang lebih cepat dibandingkan kelompok konvensional. Balutan konvensional merupakan balutan luka yang menggunakan kasa sebagai balutan utama. Balutan ini termasuk material pasif dengan fungsi utamanya sebagai pelindung, menjaga kehangatan dan menutupi penampilan yang tidak meyenangkan. 

Disamping itu balutan kasa juga dipakai untuk melindungi luka dari trauma, mempertahankan area luka, atau untuk penekanan luka dan area sekitar luka dan mencegah kontaminasi bakteri. Prinsip balutan modern dan konvensional sama yaitu menjaga kelembaban, kehangatan dan mencegah dari trauma. Namun balutan tradisional kurang dapat menjaga kelembaban karena NaCl akan menguap sehingga kasa menjadi kering. Kondisi kering menyebabkan kasa lengket pada luka sehingga mudah terjadi trauma ulang. Kekurangan kasa dalam menjaga kelembaban lingkungan luka menyebabkan masa perawatan luka yang memanjang. 

Balutan modern mempunyai tingkat perkembangan perbaikan luka diabetik yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan balutan konvensional. Semakin tinggi proses perbaikan luka pasien, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk proses perbaikan luka. Pada kondisi dimana balutan modern tidak dapat di lakukan, balutan konvensional masih dapat dilakukan dengan tetap menjaga kelembaban luka yaitu dengan mengganti balutan 2 kali sehari. Pengunaaan bahan pada perawatan luka dikategorikan tidak sesuai dengan karakteristik luka (100.00%).
Perawat membersihkan luka menggunakan normal salin, menggunakan povidone iodine sebagai antiseptik dan mengandalkan balutan basah kering (wet to dry) sebagai bahan balutan baik pada luka akut maupun luka kronik. Balutan basah kering (wet to dry) adalah balutan yang menggunakan kasa yang dibasahi dengan salin normal dan difiksasi menggunakan plester zink oksida. Perawat menggunakan bahan yang sama untuk merawat semua jenis luka akut dan kronik.  Berdasarkan hasil penelitian ini, saya ingin memberikan masukan kepada seluruh petugas kesehatan agar menggunakan bahan perawatan luka yang sesuai dengan karakteristik luka pasien. Misalnya tidak menggunakan povidone iodine pada luka akut seperti luka hasil pembedahan dan luka kronik yang menunjukkan kesembuhan (healable wound). Povidone iodine hanya digunakan pada jaringan kulit yang utuh pada pre-operatif, dan luka akut maupun kronik yang tidak dapat sembuh (non-healable) ataupun luka yang mengalami infeksi. Selain itu, saya juga menyarankan agar semua petugas kesehatan membuat suatu pelatihan tentang konsep perawatan luka terkini.

Semoga Bermanfaat gaissss :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar