Dahulu
sewaktu saya duduk di bangku TK saya pernah ditanya oleh papa mama saya, kalau
sudah besar mau menjadi apa, tapi saya tidak menjawabnya karena saya tidak tau
kalau sudah besar mau menjadi apa dan saya tidak tau cita-cita saya itu seperti
apa nantinya. Tapi saya pernah sewaktu ditanya seperti itu saya menujuk orang
yang ada di tv yaitu dokter, saya ingin sekali menjadi dokter yang bisa membantu
banyak orang. Papa mama saya lalu bilang saya bisa menjadi apa yang saya
cita-citakan. Lalu sewaktu saya SD saya ditanya apa cita-cita saya kelak oleh
guru saya, lalu saya menjawab saya ingin menjadi dokter. Guru saya pun bilang
kalau saya bisa menjadi apa yang saya inginkan. Lain halnya sewaktu saya SMP,
sewatu saya duduk dibangku SMP saya disuruh menuliskan cita-cita saya disecarik
kertas, lalu disaat itu saya menuliskan saya ingin menjadi seorang psikolog.
Teman-teman saya pun mentertawakan cita-cita saya. Mereka bilang orang yang
menjadi seorang psikolog adalah orang yang sok tau, dia bisa tau apa yang
sedang dialami oleh orang lain, tapi dia tidak tau apa yang sedang dia sendiri
rasakan. Saya sedih dan kecewa karena teman-teman saya tidak mendukung apa yang
saya cita-citakan, mereka malah menolok-olok dan mentertawakannya. Di sisi lain
orang tua saya pun tidak menyetujui saya untuk menjadi seorang psikolog, entah
alasan apa yang menjadi bahan pertimbangan untuk orang tua saya tidak meyetujui
cita-cita saya.
Disaat itu saya bingung dengan semuanya, saya heran mengapa
banyak yang tidak menyetujui saya untuk menjadi psikolog, banyak yang
mecaci-maki dan mentertawakannya. Lalu saya pun berkonsultasi dengan guru di
SMP saya, saya bertanya apa salah saya mempunyai cita-cita menjadi psikolog dan
mengapa banyak yang tidak setuju dan malah mentertawakannya. Lalu guru saya
bilang apapun cita-cita kamu asal itu baik tidak masalah, cara pandang orang
tentang suatu profesi berbeda, mungkin cara pandang mereka salah, dan soal
orang tua mungkin kamu harus membujuknya saja dan coba beri pengertian. Saya
pun langsung sadar, dan saya bangga sama apa yang saya cita-citakan, cita-cita
orang memang berbeda, maka dari itu saya semakin yakin dengan apa yang saya
cita-citakan. Keesokan harinya saya mencoba bilang kepada kedua orang tua saya
tentang apa yang saya cita-citakan, saya bilang bahwa life in choise hidup ini adalah pilihan, profesi adalah pilihan,
apa salah saya tertarik dan ingin menjadi seorang psikolog. Lalu oarang tua
saya pun terdiam dan beliau tetap tidak setuju saya menjadi psikolog. Tapi saya
tidak peduli dengan semua itu, saya tetap yakin dengan cita-cita saya. Beranjak
masuk ke SMA banyak berbagai pengalaman yang saya dapatkan, salah satunya
informasi tentang berbagai profesi kesehatan. Tenyata banyak sekali profesi
yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Banyak sekali teman-teman saya yang
tertarik masuk ke dunia kesehatan. Entah itu menjadi dokter, perawat, bidan, ahli
gizi, farmasi, kesehatan masyarakat, dan lain-lain.
Awal
masuk SMA saya tetap pada pendirian saya, saya tetap yakin dengan cita-cita
saya yaitu psikolog. Disaat itu saya mengira psikolog itu masuk kedalam dunia
kesehatan, tapi ternyata perkiraan saya salah. Psikolog bukan termasuk kedalam
dunia kesehatan. Di bangku SMA ini saya banyak sekali mendapat pencerahan dan
berbagai informasi dari berbagai kalangan entah itu guru-guru atau teman-teman
saya. Disaat kelas 3 SMA saya sangat bingung karena disanalah penentuan kita
mau menjadi apa, penentuan masa depan kita. Di kelas 3 SMA setelah Ujian
Nasional ada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Disitulah saya bingung saya
harus memilih Universitas mana dan program studi apa yang saya suka dan sesuai
dengan kemampuan saya. Saya banyak berkonsultasi oleh kedua orang tua saya,
guru-guru saya dan teman-teman saya. Ujian pertama yang saya lewati adalah
SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Di ujian pertama ini
saya memilih Universitas Padjadjaran dan Universitas Soedirman dengan program
studi Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat. Entah mengapa saya mengambil
program studi itu, saya merasa saya ingin sekali menjadi seorang perawat, saya
tidak lagi mau menjadi seorang psikolog, karena tidak direstui oleh kedua orang
tua saya dan juga saya lebih tertarik masuk ke dalam dunia kesehatan, yaitu Keperawatan.
Motivasi saya menjadi perawat yaitu saya ingin sekali membantu banyak orang,
saya ingin membantu dokter untuk menyembuhkan masyarakat Indonesia. Orang tua
saya pun setuju dengan pilihan saya karena mereka menggangap ini adalah
pekerjaan mulia. Banyak orang yang bilang mengapa saya tidak menjadi dokter
saja. Saya sadar menjadi dokter biayanya sangat mahal dan sepertinya kemampuan
saya pun tidak cukup untuk menjadi seorang dokter. Saya menggangap menjadi
seorang perawat lebih dari cukup dan sama halnya menjadi dokter hanya saja kita
asistennya dokter. Di ujian pertama ini seleksinya menggunakan nilai rapot. Hari
pengumuman pun tiba, dan hasilnya saya gagal, saya tidak diterima.
Saya sedih
dan kecewa saya malu dengan kedua orang tua saya. Lalu saya mencoba ikut tes
PMDK D-3 disini saya mencoba mengambil di Universitas Sebelas Maret dan di
Poltekkes Jakarta III dan saya mengambil program studi keperawatan. Disini
seleksinya juga menggunakan nilai rapot. Dan lagi-lagi hasilnya gagal. Saya
tidak berhenti mencoba, orang tua saya pun menyemangati. Saya mencoba lagi
ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya mengambil 3
Universitas yaitu Universitas Brawijaya dengan program studi Kebidanan,
Universitas Islam Negeri Jakarta dengan program studi Keperawatan, dan
Universitas Negeri Semarang dengan program studi Kesehatan Masyarakat. Disini
seleksinya menggunakan tes. Hasilnya pun sama seperti ujian sebelumnya, saya
tidak lolos. Disaat itu saya hampir putus asa karena saya tidak diterima kesekian
kalinya oleh Perguruan Tinggi Negeri.
Banyak
sekali kendala ditengah jalan, banyak sekali cobaan untuk menjadi sukses dan
berhasil. Kedua orang tua saya pun sampai menyuruh saya untuk mendaftar juga di
Universitas Swasta, tapi saya tidak mau karena saya sadar di Universitas Swasta
biayanya lebih mahal daripada Universitas Negeri. Saya tetap akan mencoba untuk
bisa masuk di Universitas Negeri melalui jalur apapun. Setelah semua jalur saya
coba, kali ini saya mencoba masuk lewat jalur UM (Ujian Mandiri), dijalur ini
memang biayanya lebih mahal tapi saya teringat kalau tahun ini sistem di
Universitas Negeri memakai UKT (Uang Kuliah Tunggal) jadi semua sama saja. Saya
mencoba 3 Universitas yaitu Poltekkes Jakarta III dengan program studi Keperawatan,
Universitas Islam Negeri Jakarta dengan program studi Keperawatan dan Kesehatan
Masyarakat dan Universitas Diponegoro dengan program studi Keperawatan dan
Kesehatan Masyarakat.
Saya berharap sekali di ujian kali ini saya lolos dan
alhamdulillah doa saya didengar oleh Allah. Saya lolos di Poltekkes Jakaarta
III dengan program studi Keperawatan D-3 dan di Universitas Diponegoro dengan
program studi Keperawatan S-1. Disini saya bingung saya harus mengambil yang
mana, kerena semua sama-sama cocok dengan pilihan saya, mau tidak mau saya
harus memilih dan menentukan mana yang harus saya pilih. Lalu akhirnya dengan
keputusan bersama antara sana dan orang tua saya, saya mengambil di Universitas
Diponegoro dengan program studi Keperawatan S-1. Saya pikir lebih baik saya
langsung menggambil S-1 dibanding D-3, karena sekarang banyak sekali S-1 yang
pengganguran apalagi D-3.
Orang tua saya bangga sekali karena saya bisa masuk
di salah satu Universitas terbaik di Indonesia, Universitas yang sudah
mempunyai nama besar di masyarakat luas. Saya pun senang karena saya bisa
membuat orang tua saya bangga. Saya sama sekali tidak terpikir kalau saya akan
menggambil dan dapat diterima di Universitas Diponegoro, karena banyak masalah
yaitu jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan seleksinya yang sangat ketat.
Tapi saya bisa membuktikan kepada semua kalau saya bisa, saya mampu berada di
Universitas ini. Persoalan jauh dari rumah dan jauh dari orang tua insyaallah
bisa diselesaikan, memang kalau kita ingin mrenjadi sukses dan berhasil banyak
sekali perjungan dan pengobanan, banyak sekali jatuh bangun, kegagalan,
kesedihan ditengah jalan, tapi insyaallah kalau ada niat bisa menjadi happy ending. Saya berpikir kalau saya
mengambil di Universitas ini banyak sekali pengalaman yang akan saya dapatkan,
yaitu suasana baru, teman baru, tempat tinggal baru dan semuanya baru. Dan saya
ingat oleh perkataan guru saya, apapun bisa kita raih selagi ada niat, usaha
dan berdoa. Saya akan membuktikan kalau saya bisa sukses dengan apa yang saya
cita-citakan.



